Bersatu, Bersaudara, Kita Melangkah Bersama Menggapai Cita - Cita

Bersatu, Bersaudara, Kita Melangkah Bersama  Menggapai Cita - Cita
Himapa

ADAPTASI MAHASISWA PAPUA (Surabaya)

Bagi anak muda Papua beradaptasi dengan lingkungan, budaya serta masyarakat yang ada di surabaya dapat dikatakan sulit dan memerlukan waktu yang sangat lama. Kesukaran ini terjadi karena perbedaan budaya, karakter, adat-istiadat, dialek serta lingkungan yang sangat menonjol perbedaannya. Tentu saja, orang yang budaya hampir sama dengan budaya Surabaya akan mengatakan bahwa hal ini tidak masuk akal tetapi itu realita yang terjadi bagi anak-anak muda yang mengenyam pendidikan di tanah rantauan. Ada beberapa faktor yang menjadi kesulitan dalam menyesuaikan diri dengan lingkungan yang ada:

1.  Perbedaan karakter

Sifat dan cara berfikir antara masyarakat Jawa khususnya Surabaya dengan Indonesia bagian timur terdapat perbedaan. Perbedaannya adalah Orang Jawa diidentikan dengan baik, halus dan rama tamah sementara itu, bagi orang Papua diidentikan dengan kasar, tidak tahu etika dll. Contohnya, orang Papua khususnya mahasiswa asal Papua akan terus terang memberitahukan apa yang mereka tidak inginkan, tidak senang atau merasa disakiti.
Dari perbedaan itu, terdapat juga beberapa keunikan tersendiri dari sifat-sifat tersebut. Contoh orang Papua terus terang akan memberitahukan atau membalas pada saat itu juga, tetapi setelah amarahnya redah tidak ada rasa benci atau frustasi terhadap orang yang menyakitinya. Sementara itu, Jika Orang Di Surabaya selalu memendamkan rasa marah atau rasa frustasi mereka dalam jangka waktu yang lama.

2. Budaya

seperti halnya karakter, budaya Papua dan Jawa pun sangat berbeda. Hal ini, kita dapat melihat dari berbicara, makanan, tata karma. Contohnya makanan, orang jawa sebih senang makan masakan manis, sementara orang Papua lebih senang yang asin. Dan cara berbicara pun berbeda; cara berbicara orang Papua lebih cepat dari pada orang jawa cara berbicara orang jawa yang lamban dll. Sehingga, budaya ini pun menghambat penyesuaian mahasiswa asal Papua yang ada di Surabaya.

Kesimpulannya, sebenarnya di dalam perbedaan itu terdapat hal-hal unik yang kita dapat memetiknya, namun disini yang diperlukan adalah menghilangkan ego. Kita harus sadar bahwa salah satu budaya tidak dapat mendominasi budaya lain. Artinya bahwa kita harus menyadari bahwa Jika kita memertahankan budaya kita masing-masing maka yang terjadi adalah Orang Jawa tidak dapat beradaptasi dengan orang Papua dan Orang Papua tidak dapat beradaptasi dengan orang Jawa. Oleh sebab itu, saling menghargai dan mempelajari budaya satu dengan yang lain itulah yang terpenting harus kita sama-sama menyadari.

a. Pendekatan-pendektan untuk beradaptasi

• Penyesuaian lingkungan social

Banyak cara yang dilakukan anak-anak muda Papua yang kuliah di Jogjakarta agar supaya mereka dapat beradaptasi dengan lingkungan, budaya. Salah satunya adalah melakukan pendekatan dengan orang-orang terdekatnya atau bapak ibukosnnya untuk mendalami atau mempelajari budaya, kebiasaan masyarakat Surabaya. Ada juga yang bergabung hingga ke perdesaan hanya untuk mengenal budaya atau kebiasaan di Surabaya. Karena hal ini penting bagi anak-anak muda papua kalau tidak demikian pastilah masih terbawa adat kebisaan yang dari daerah asalnnya.

• Makrab dan Penyesuaian lingkungan kampus

Salah satu hal yang sangat sulit adalah cara bersaing dengan mahasiswa lain di Indonesia. Hal ini disebabkan oleh penerapan pendidikan yang lebih mengutamakan Indonesia barat alias Jawa. Namun anak muda Papua tidak pernah tingga diam atau menjadi penonton, mereka mengadakan beberapa usaha diantaranya, mencari Informasi dan pengalaman kaka senior mereka yang sudah berhasil atau sudah ada sebelum.
Selain itu, anak-anak Papua selalu mengadakan makrab setiap tahun. Tujuan dari makrap ini adalah kakak-kakak senior ingin mengarahkan anak-anak yang baru datang ke Surabaya. Mereka juga ingin memberikan bimbingan tentang cara hidup di tengah masyaraka serta belajar dan membagi waktu yang efektif dll. Sehingga seketika mereka masuk ke kampus mereka sudah tidak perlu bingung untuk bersaing atau mengikuti pendidikan.
Dengan arahan yang diberikan oleh kakak senior mereka, mereka mejalankan sesuai dengan nasehat atau arahan yang diberikan oleh kakak senior mereka. Ada yang mengembangkan diri dengan memfokus atau mengembangkan kepribadian melalui organisasi social maupun organisasi kiri. Ada juga yang mengembangkan skill dengan mengikuti kursus-kursus sesuai dengan arahan yang diberikan oleh kakak-kakak senior mereka. Ada juga yang berusaha bersaing dengan teman-teman dengan membaca buku-buku yang sudah disediakan di perpustakaan.
Dengan langkah-langkah diatas ini adalah langkah yang diambil oleh anak-anak muda Papua untuk menyesuaikan dengan sekolah, mereka yakin dengan cara diatas mereka sudah dapat menyesuaikan atau bersaing dengan lingkugan maupun teman kampus mereka.

3. Tanggapan Anak-anak Papua terhadap Masyarakat Surabaya.

a. Tukang Gossip
Anak-anak Papua yang belajar di Surabaya menilai bahwa masyarakat Surabaya menceritakan hal-hal yang negatif atau hal-hal sepele orang lain tanpa memberitahu kepada orang yang bersangkutan.
Contoh korban gossib, Hal-hal ini pun dialami oleh beberapa orang atau anak mahasiswa Papua; hanya karena tidak membayar uang listrik satu bulan, bapa kosnya menceritakan kepada orang yang ada di RT itu. Anak tersebut tidak menerima kelakuan bapa kosnya ialah dia menceritakan kepada orang lain tanpa menagi atau memberitahukan terlebih dahulu kepadanya.
Dengan demikian, nama baik anak tersebut tercoret, sehingga mau dan tidak dia harus memutuskan untuk menyendiri dan tidak berbaur lagi dengan orang lain. Kemudian setelah batas waktu kos-kosannya habis, dia mencari kos-kosan lain karena dia merasa malu atas perlakuan bapak kosnya teradap dia.
Orang Jawa, walaupun bukan seluruhnya, tidak menyadari bahwa gossip ini dapat menjatuhkan martabat orang lain. Hal ini yang perlu disadari oleh orang-orang yang suka gossip alias kerjaannya gossip.

b. Suka Menyamakan orang

Nama baik mahasiswa papua dari pandangan masyarakat Surabaya sudah negatif. Mereka menilai bahwa semua anak muda Papua berbuat hal yang sama. Contohnya, mereka beranggapan bahwa seluruh anak Papua suka mabuk dan suka melakukan onar, serta melakukan hal-hal yang dipandang tidak wajar dari pandangan masyarakat setempat, kenyataannya tidak seperti yang dikirakan. Sebab anak muda papua yang study di kota Surabaya mengenal dengan kata menjaga nama baik anak papua. Jadi kami sebagai anak muda papua yang mengenyam pendidikan di Surabaya menyampaikan kepada masyarakat bahwa, tidak semua anak papua melakukan hal-hal negetif atau onar, hanya kalangan atau orang-orang tertentu yang melakukan hal serupa. Maka yang harus dilihat adalah apa, latar belakang ekonomi (orang tua pejabat) dan siapa yang melakukan hal tersebut.


4. Bagimana tanggapan masyarakat terhadap budaya luar

a. Perlu sadari

Kebiasaan adat-istiadat dan tata krama perlu dipahami oleh anak-anak muda papua, karena ini membentuk cara hidup dalam pergaulan dan kebiasan di tengah-tengah masyarakat Jawa, kalau tidak demikian masih terbawa adat kebiasaannya, menurut anak-anak muda papua itu merupakan kebiasaan ini cocok bagi kelompoknnya, tetapi dari pandangan masyarakat sekitarnya kebiasaan tersebut kurang baik. Maka perlu belajar hal-hal yang cocok bagi masyarakat setempat dan kalau perlu memahami budaya kebiasaan masyarakat dimana anak-anak muda papua berada. Dan perlu diperhatikan adalah segi positifnya dari adat kebiasaan masyarakat Surabaya, sering kita hadapi adalah masyarakat memberikan atau menggarakan anak-anak muda papua ini ke hal yang baik disamping itu ada juga hal-hal yang kurang cocok bagi anak-anak muda ini di tengah-tengah masyarakat setempat. Karena pemahaman masyarakat jogja terhadap budaya luar membawa perbedaan diantara mereka, jika pemahaman yang terjadi adalah hanya pada hal-hal yang negative.
Anak-anak muda papua peminum, pemabok, anarkis dan sebagainya, maka hal yang penting untuk kami mengoreksi kembali adalah dimana titik kelemahan anak-anak muda papua. Dari pandangan ini perlu kami membenarkan karena kami sebagai anak-anak muda papua mengenal dan memahami persoalanya. Jadi barang-barang tersebut bawah dari daerah asal atau memperoleh dari masyarakat setempat? Pelaku penjual miras itu siapa? Dan mengapa ia menjual barang yang merugikan orang lain? Untuk apa ia mengendarkan miras? Pasti banyak jawaban yang akan muncul untuk membelah dirinya namun bagi kosumsi ia menjelek-jelekannya pada hal biang keladinya adalah orang yang sengaja menjual barang-barang tersebut untuk mematikan masyarakat banyak pada khusus generasi muda papua. Namun anak-anak muda papua belom menyadari dalam hal ini dan anak-anak muda papua beranggapan bahwa minuman adalah hobby bukan budaya papua.

b. Menciptakan suasana yang kondusif

Mengenal dengan budaya jawa yang rama-tamah dan tata krama ini, maka perlu belajar kebiasaan dan tradisi jawa untuk menyamakan, Berarti bukan diri anda menjadi mereka, tetapi kita memetik hal-hal baik dari masyarakat dan menjadi teladan bagi yang lain, agar masyarakat menerima kita.
Masyarakat Surabaya memandang anak muda papua bahwa anak muda Papua datang ke Jawa untuk belajar dan menimbah ilmu pendidikan di Surabaya, oleh karena itu anak muda Papua khususnya mahasiswa dan pelajar perlu mempelajari dan juga memahami adat istiadat yang ada di Surabaya. Kalau tidak demikian tentulah anggapan masyarakat terhadap anak muda papua akan terus negatif. Dan yang penting bagi anak muda papua adalah mematahkan anggapan yang tidak sesuai dengan kenyataan yang ada.
Mabuk, berarti mabuk itu tidak dilakukan oleh semua anak muda papua, anarkis berarti anarkis itu tidak dilakukan oleh semua anak muda papua, tetapi masyarakat Surabaya mengganggap bahwa anak muda papua itu suka mabuk-mabukan, bikin onar. Sebenarnya kelakuan itu dilakukan oleh sebagian kelompok anak yang orang tuanya dari ekonomi menengah atas. Mereka mereka inilah yang merusak nama baik anak-anak muda papua di tengah masyarakat jawa.

c. Kehidupan di tengah keakraban

Menciptakan keakraban itu penting terhadap siapa saja, terutama di tengah-tengah masyarakat, dan di kalangan mahasiswa apabila kita sudah mengenal dan sudah menjadi teman akrab itu menciptakan Susana yang kondusif. Disamping itu juga kita dituntut untuk bergaul bebas. Akan tetapi, pergaulan bebas itu tidak dapat menjanjikan hal-hal yang berguna bagi kita, asalkan dengan siapa kita bergaul, jika pergaulan itu menjerumus kita ke hal yang negative dan melalui pegaulan itu bisa saja menciptakan hal positif dan negatif.

d. Menghargai budaya luar

Dari pandangan ini kami ketahui bahwa masyarakat jawa benar-benar menghormati budaya luar karena Indonesia memiliki berbagai adat-istiadat, budaya, kebiasaan, tradisi dan lain sebagainya. Dari latar belakang yang berbeda ini masyarakat Surabaya juga mengenal hal tersebut, hingga sampai sekarang masyarakat Surabaya menerima setiap tahun ajaran kurang lebih puluhan ribu pelajar mahasiswa dari luar pulau Jawa yang keinginan untuk belajar di kota Surabaya, serta menyediakan tempat kos-kosan bagi mereka. Dari inilah yang kami memahami bahwa masyarakat juga menerima kita apa adanya asalkan hidup di tengah-tengah masyarakat sesuai dengan adat kebiasaan yang ada di sekitarnya.

Dengan demikain Kehidupan yang nyata ini perlu memahami budaya, krakter , adat isti-adat dan kebiasaan dan lain sebaginya, inilah pengalaman dan pandangan kelompok tentang anak muda papua di tengah masyarakat Surabaya . Dengan pengalaman dan pandangan ini kelihatanya dari segi kacamata orang-orang berbeda-beda dan juga sebagaimana kelompok kami menceritrakan diatas merupakan belum tentu benar oleh orang lain, yang utamanya masyarakat Surabaya serta anak muda Papua, sehingga pentingnya cara pandang kita terhadap suatu persoalan yang terjadi di tengah-tengah masyarakat. Cara hidup di tengah-tengah kelompok masyarakat, di dalamnya terdapat berbagai ragam antaranya, budaya, kebiasaan, tradisi, karakter dan lain sebagainya namun kita wajib menciptakan suasana yang aman dan kondusif dalam bersmasyarakat.






Tidak ada komentar:

Posting Komentar